![]() |
| Prof Sukardi Weda Calon Rektor Unhas |
Makassar, Ujaran.co.id – Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030 menjadi salah satu momen paling menarik dalam perjalanan akademik kampus merah. Di tengah dinamika dan persaingan intelektual yang hangat, muncul sosok yang mencuri perhatian publik dan kalangan akademisi — seorang alumni yang tidak menyangka akan menembus putaran kedua Pemilihan Rektor, bahkan memperoleh satu suara berharga dari Anggota Senat Akademik (SA)
Bagi sang kandidat, keikutsertaan dalam Pilrek Unhas kali ini bukan sekadar kontestasi, tetapi momentum berharga untuk bersilaturahmi dan memperkuat ikatan emosional dengan sivitas akademika.
“Bagi saya, ikut serta dalam suksesi Pemilihan Rektor Unhas adalah kebanggaan tersendiri. Saya bukan hanya menjadi peserta, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah Unhas yang telah membesarkan saya,” ujarnya dengan nada reflektif.
Ia mengaku, pengalaman mengikuti Pilrek Unhas 2025–2026 memberinya ruang untuk belajar dan tumbuh, tidak hanya sebagai akademisi tetapi juga sebagai manusia yang berproses dalam kepemimpinan dan kebijaksanaan.
“Saya yang dulu hanya alumni dari kampus tetangga, yang beberapa kali mendaftar sebagai dosen dan tenaga kependidikan di Unhas namun belum diterima, kini diberi ruang oleh panitia untuk bertarung secara sportif. Itu luar biasa,” tuturnya.
Selama masa sosialisasi di lima zona kampus, ia bertemu kembali dengan banyak wajah yang familiar: para guru besar, kolega, mantan dosen, hingga para tendik yang dulu menjadi bagian dari perjalanannya di Unhas.
“Setiap sosialisasi menjadi ruang silaturahmi. Saya menggunakan waktu beberapa menit untuk menyapa mereka — orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan akademik saya sejak awal,” ujarnya penuh haru.
Nama-nama besar turut mendampingi langkahnya dalam kontestasi ini: Prof. Jamaluddin Jompa, Prof. Budu, Prof. Muhammad Iqbal Djawad, Prof. Marhaen Hardjo, dan Dr. Zulfajri Basri Hasanuddin. Baginya, keenam kandidat ini bukanlah rival, melainkan sahabat seperjuangan yang saling menghormati dan menguatkan.
“Kami berenam sudah seperti saudara. Di sela kegiatan, kami bercengkerama, saling berbagi lelucon, dan itu membuat atmosfer Pilrek Unhas begitu hangat. Bagi saya, ini lebih dari sekadar pemilihan — ini silaturahmi akademik yang menumbuhkan kedewasaan,” katanya.
Selama 26 tahun pengabdian di Unhas — mulai dari asisten dosen di Pusat Bahasa dan MKU, dosen LB di D3 Pariwisata Fakultas Sastra, hingga sekretaris dekan di dua fakultas berbeda, dan kini penguji eksternal Program Doktor Linguistik dan English Language Studies (ELS) — Unhas telah menjadi rumah intelektual baginya.
Kini, setelah melalui proses panjang dan pengalaman yang kaya, ia melihat Pilrek Unhas bukan semata ajang perebutan jabatan, melainkan ruang pembelajaran tentang integritas, persahabatan, dan semangat akademik yang hakiki.
“Saya memperoleh banyak ilmu, pengalaman, relasi, dan wawasan dari proses ini. Semua itu amat berharga untuk perjalanan karier saya ke depan,” tutupnya.

0 Comments