![]() |
Di Makassar, korban meninggal tercatat paling banyak. Muh Akbar Basyri (Abay), staf Humas dan Protokoler Set DPRD Kota Makassar, menjadi salah satu yang gugur. |
UJARAN.CO.ID – Gelombang aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak 28 hingga 31 Agustus 2025 di sejumlah kota besar berakhir dengan duka mendalam. Dari data yang dihimpun, sedikitnya delapan orang dilaporkan meninggal dunia akibat rangkaian kerusuhan yang pecah di Jakarta, Makassar, Surakarta, dan Yogyakarta.
Di Jakarta, korban jiwa adalah Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online. Ia tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob Polda Metro Jaya ketika sedang menyeberang jalan di tengah kericuhan.
Di Makassar, korban meninggal tercatat paling banyak. Muh Akbar Basyri (Abay), staf Humas dan Protokoler Set DPRD Kota Makassar, menjadi salah satu yang gugur. Tidak hanya itu, Sarinawati, staf Set DPRD Kota Makassar, juga ikut menjadi korban setelah terjebak dalam gedung DPRD yang dibakar massa.
Korban lain yakni Saiful Akbar, Plt Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar, serta Rusdamiansyah, seorang pengemudi ojek online, yang dilaporkan tewas akibat dikeroyok massa.
Di Surakarta, seorang penarik becak bernama Sumari meninggal dunia karena sesak napas, diduga dipicu serangan jantung serta kambuhnya asma saat situasi mencekam.
Sementara di Yogyakarta, korban jatuh pada Rheza Sendy Pratama, mahasiswa AMIKOM. Ia tewas setelah terjatuh dari sepeda motor ketika berusaha menyelamatkan diri dari tembakan gas air mata pada 31 Agustus 2025.
Tragedi ini menambah catatan kelam perjalanan demokrasi di Indonesia. Aksi yang sejatinya digelar untuk menyampaikan aspirasi berubah menjadi kericuhan yang merenggut nyawa, menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban serta masyarakat luas.

0 Comments