Nelayan Kembali Aksi Tolak Tambang Pasir, Muncul Isu Murni Perjuangan atau Hal Lain

UJARAN.MAKASSAR – Perjuangan para nelayan Pulau Kodingareng terus menunjukkan tajinya sebagai upaya yang ditenggarai untuk mempertahankan hak-haknya sebagai penduduk yang bermukim di pulau tersebut. Ditengah hiruk pikuk menanti kepastian hukum, proses penambangan pasir di pulau itu terus berlanjut hingga kini.

Dalam pantauan awak media, Selasa (06/10/20) siang ini, sekitar 50 orang nelayan yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pesisir yang didominasi oleh emak-emak dengan tegas menolak penambangan pasir yang dilakukan oleh Queen Netgerland (Bos Kalis) di perairan Kodingareng, Kota Makassar.

Massa aksi tersebut dipimpin oleh Ahmad sebagai Koordinator Lapangan dan Yulianto sebagai Jenderal Lapangan. Menariknya, peserta aksi dengan drescode merah-merah bertuliskan “Assulukko Bos Kalis Nelayan Butuh Laut Bukan Tambang Pasir”. Tuntutan nelayan jelas menghentikan penambangan pasir dengan mencabut izin PT Bos Kalis.

Dalam orasinya, massa aksi meminta bertemu Gubernur Sulawesi Selatan agar aspiranya dapat dikabulkan. Massa aksi sempat bersitegang dengan aparat pengamanan yang dipimpin langsung oleh Pers Gabungan Polri dan Polda Sulsel. AKBP Radiant sehingga situasi aman terkandali hingga saat ini.

Dilain sisi, disudut pandang yang berbeda beredar video ada yang menduga bahwa emak-emak tersebut dimanfaatkan oleh aktivis lingkungan untuk mengumpulkan kerumunan massa di era pandemik Covid-19.

“Mereka hanya benar-benar menjadi alat umpan oleh para aktivis yang memainkan peran ibu-ibu nelayan dan orang-orang kodingareng untuk kepentingan perut para aktivis lingkungan hidup dengan dalih atas nama kepentingan oleh para nelayan,” tulisnya, kepada rilis yang diterima Ujaran.

Menurutnya, dari beberapa wawancara ibu-ibu peserta unjuk rasa, sebut saja ibu Ros orator perempuan yang berteriak lantang meneriakan suara perjuangan untuk bertemu gubernur Sulawesi Selatan

“Mereka ibu-ibu dan anak-anak nelayan menjadi tameng yang siap dikorbankan untuk mewakili suara-suara kebongan para aktivis lingkungan,”Tulisnya seseorang yang enggan disebutkan namanya.

Ia membeberkan bahwa dugaan emak-emak termanfaatkan oleh situasi yang terlihat.

“Puluhan anak muda yang terlihat Kumal hanya berani muncul dibalik selendang dan kerudung para ibu-ibu, tapi sesungguhnya apa yang diteriakkan dan sandiwara yang diperankan oleh para nelayan Kodingareng itu merupakan manispestasi dari skenario yang disutradarai oleh para pemuda Kumal pengawal nelayan Kodingareng itu,” lebih panjang ia tuliskan.

Lanjut, “Bahkan nelayan Kodingareng yang sudah berjubel diatas pete-pete harus turun lagi bergabung dengan istri-istrinya berunjuk rasa karena dilarang pulang oleh pemuda Kumal yang menghadang mereka didepan kantor Gubernur Sulsel,” tulisnya kepada Ujaran.

Selain itu, beredar informasi perihal pengelolaan dana CSR yang kini diduga ditenggarai akan dikelola oleh aktivis lingkungan. Seperti apa pengelolaannya masih menjadi tanda tanya bagi para nelayan.

Hingga berita ini terbitkan, pro-kontra terjadi mengenai persoalan penambangan pasir di Pulau Kodingareng menjadi perhatian bersama untuk memperjuangkan hak-hak rakyat tanpa unsur pemanfaatan. (Ril/Yaya)

0 Comments