Yusuf Sebut Budaya Digital di Sekolah Harus Dimulai dari Keteladanan Kepala Sekolah dan Guru

Yusuf, S.Pd.,MM

UJARAN.CO.ID, BONE — Transformasi digital di lingkungan pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat teknologi dan akses internet. Lebih dari itu, digitalisasi harus mampu membentuk kebiasaan baru yang positif hingga berkembang menjadi budaya di lingkungan sekolah. Hal tersebut disampaikan Yusuf Akademisi Universitas Muhammadiyah Bone saat menganalisis pentingnya peran kepala sekolah dan guru dalam membangun budaya digital bagi peserta didik tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Bone. 
Menurut Yusuf, sekolah merupakan salah satu ruang paling strategis untuk membentuk pola perilaku peserta didik dalam menggunakan teknologi secara bijak, produktif, aman, dan bertanggung jawab. Karena itu, budaya digital tidak boleh dipandang sekadar sebagai kemampuan menggunakan perangkat digital, tetapi sebagai bagian dari karakter dan kebiasaan warga sekolah.
“Budaya digital tidak lahir hanya karena sekolah memiliki komputer, jaringan internet, atau perangkat teknologi. Budaya digital lahir ketika penggunaan teknologi yang baik dilakukan secara terus-menerus, dicontohkan oleh guru dan kepala sekolah, kemudian menjadi kebiasaan bagi murid,” ujar Yusuf.
Ia menilai, kepala sekolah memiliki posisi penting sebagai pemimpin perubahan di satuan pendidikan. Kepala sekolah bukan hanya bertanggung jawab terhadap aspek administratif, tetapi juga perlu membangun visi dan ekosistem sekolah yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Menurutnya, kepala sekolah harus mampu memberikan arah yang jelas mengenai bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran, komunikasi, administrasi, hingga pengembangan kompetensi guru. Kebijakan digital di sekolah juga perlu diarahkan agar teknologi tidak sekadar digunakan karena tuntutan zaman, melainkan benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan.
“Kalau kepala sekolah memberikan contoh bahwa teknologi digunakan untuk bekerja secara efektif, berkomunikasi secara profesional, mencari informasi yang benar, dan menyelesaikan masalah, maka guru dan murid akan melihat itu sebagai kebiasaan yang harus diikuti,” jelasnya.
Di sisi lain, Yusuf menekankan bahwa guru merupakan aktor yang berinteraksi langsung dengan peserta didik. Guru memiliki peran besar dalam menerjemahkan budaya digital menjadi praktik sehari-hari di dalam maupun di luar kelas.
Guru, kata dia, tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi atau perangkat digital. Guru juga harus membimbing murid memahami etika digital, kemampuan memilah informasi, keamanan data pribadi, komunikasi yang sehat di ruang digital, serta kemampuan menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.
“Anak-anak kita hari ini sudah sangat dekat dengan teknologi. Tantangannya bukan lagi bagaimana membuat mereka mengenal teknologi, tetapi bagaimana memastikan mereka mampu menggunakan teknologi dengan benar,” katanya.
Ia mencontohkan, kebiasaan sederhana seperti mencari sumber informasi yang kredibel sebelum mempercayai sebuah informasi, mencantumkan sumber ketika menggunakan karya orang lain, menjaga privasi, tidak melakukan perundungan di ruang digital, serta menggunakan internet untuk kegiatan produktif merupakan bagian dari budaya digital yang perlu ditanamkan sejak dini.
Yusuf juga mengingatkan bahwa pembentukan budaya digital tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan proses yang konsisten, mulai dari keteladanan pimpinan sekolah, kebiasaan guru, aturan sekolah, kegiatan pembelajaran, hingga keterlibatan peserta didik.
“Budaya itu dibentuk dari kebiasaan. Kebiasaan dibentuk dari praktik yang dilakukan berulang-ulang. Karena itu, kalau kita ingin murid memiliki budaya digital yang baik, maka lingkungan sekolahnya terlebih dahulu harus memberikan contoh budaya digital yang baik,” ujarnya.
Dalam konteks Kabupaten Bone, ia menilai penguatan budaya digital menjadi semakin penting karena sekolah dasar dan SMP merupakan fase strategis dalam pembentukan karakter dan kebiasaan peserta didik. Pada fase tersebut, sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab akademik, tetapi juga mempersiapkan anak menghadapi lingkungan sosial yang semakin terhubung dengan teknologi.
Ia mendorong agar setiap sekolah mulai menyusun ekosistem budaya digital sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Tidak harus dimulai dengan program besar. Sekolah dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana, seperti penggunaan platform pembelajaran, digitalisasi administrasi, pembelajaran berbasis sumber digital, literasi informasi, hingga pembiasaan etika komunikasi melalui perangkat digital.
“Jangan menunggu sekolah menjadi sempurna secara teknologi baru kemudian membangun budaya digital. Justru budaya itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten,” tutur Yusuf.
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi antara kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua, dan pemangku kepentingan pendidikan. Menurutnya, budaya digital yang dibangun di sekolah akan sulit bertahan apabila tidak mendapat dukungan dari lingkungan keluarga dan masyarakat.
Karena itu, pendidikan literasi digital perlu dipahami sebagai gerakan bersama. Sekolah membangun kebiasaan, guru memberikan keteladanan, kepala sekolah memastikan arah kebijakan, sementara orang tua memperkuat kebiasaan tersebut di rumah.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak menjadi mahir menggunakan teknologi. Kita ingin melahirkan generasi yang cakap secara digital, tetapi juga memiliki etika, tanggung jawab, disiplin, kemampuan berpikir kritis, dan mampu menggunakan teknologi untuk belajar serta menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya.
Yusuf berharap penguatan budaya digital dapat menjadi salah satu bagian dari agenda peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bone. Menurutnya, sekolah yang mampu membangun budaya digital sejak dini akan lebih siap menghadapi perubahan dunia pendidikan dan tuntutan kehidupan masyarakat di masa depan.
“Teknologi akan terus berubah. Aplikasi akan terus berganti. Tetapi kalau kita berhasil membangun budaya belajar, budaya beradaptasi, budaya berpikir kritis, dan budaya menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, maka anak-anak kita akan selalu siap menghadapi perubahan,” pungkas Yusuf.

0 Comments