![]() |
| Prof. Dr. Sukardi Weda, Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM |
UJARAN.CO.ID | MAKASSAR — Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Negeri Makassar (UNM) 2026 mulai memasuki tahapan penting. Panitia Pemilihan Rektor (Pilrek) UNM saat ini telah melakukan sosialisasi di sejumlah fakultas sebagai bagian dari rangkaian proses pemilihan pimpinan perguruan tinggi tersebut.
Sejumlah nama mulai mencuat dalam bursa bakal calon Rektor UNM periode mendatang. Di antaranya Prof. Aslinda yang saat ini menjabat Wakil Rektor I UNM, Dr. Arifin Manggau sebagai Wakil Rektor III UNM, Prof. Dr. Suwardi Annas selaku Dekan FMIPA UNM, Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono yang merupakan Guru Besar FMIPA UNM, Prof. Dr. Muhammad Jufri, mantan Dekan Fakultas Psikologi UNM, serta Prof. Dr. Sukardi Weda, Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM.
Dalam kontestasi Pilrek UNM 2026, Prof. Dr. Sukardi Weda menawarkan gagasan yang bertumpu pada penguatan UNM dari tingkat lokal menuju panggung global. Visi tersebut diarahkan pada pembenahan internal sekaligus memperkuat posisi UNM sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di kawasan Indonesia Timur.
UNM selama ini dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi besar di Indonesia Timur dengan sejarah panjang dalam mencetak tenaga pendidik. Ratusan ribu alumninya telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan berkontribusi dalam dunia pendidikan maupun sektor lainnya.
Bagi Sukardi Weda, kekuatan tersebut menjadi modal penting untuk membawa UNM melangkah lebih jauh.
Gagasan local to go global yang ditawarkan tidak hanya diarahkan pada peningkatan reputasi internasional, tetapi juga pada pembenahan berbagai aspek internal universitas. Tata kelola kelembagaan, internasionalisasi, penguatan kemitraan, peningkatan kualitas layanan, serta perhatian terhadap kesejahteraan sivitas akademika menjadi sejumlah agenda yang mendapat perhatian.
Menurut gagasan yang dikembangkan Sukardi Weda, pembangunan UNM harus memberikan ruang yang adil bagi seluruh sivitas akademika. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dipandang sebagai bagian yang sama pentingnya dalam membangun kualitas universitas.
Tidak boleh ada bagian dari sivitas akademika yang merasa termarjinalkan. Karena itu, peningkatan fasilitas, kualitas layanan, serta kesejahteraan menjadi bagian dari pembenahan yang perlu dilakukan secara menyeluruh.
Berpihak kepada Mahasiswa
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian Sukardi Weda adalah pembenahan kegiatan yang berkaitan langsung dengan mahasiswa, termasuk pelaksanaan acara ramah tamah bagi lulusan.
Ia menilai pelaksanaan ramah tamah yang selama ini dilakukan di hotel berpotensi memberikan beban tambahan kepada mahasiswa atau alumni. Karena itu, salah satu gagasan yang ditawarkan adalah mengembalikan pelaksanaan ramah tamah dari hotel ke lingkungan kampus UNM.
Gagasan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan kebijakan perguruan tinggi yang lebih berpihak kepada mahasiswa dan keluarga mereka.
Selain ramah tamah, Sukardi Weda juga menawarkan pembenahan pola pelaksanaan wisuda UNM. Ia menggagas agar wisuda sarjana dan pascasarjana kembali dilaksanakan secara lebih normal dan terjadwal sesuai kebutuhan.
Dalam konsep tersebut, wisuda dapat dilaksanakan sekitar empat atau lima kali dalam setahun, dengan pembagian gelombang berdasarkan jenjang pendidikan.
Misalnya, Gelombang I diperuntukkan bagi lulusan program sarjana dan vokasi, sementara Gelombang II diperuntukkan bagi lulusan pascasarjana, baik magister maupun doktor. Pola tersebut kemudian dapat dilanjutkan pada gelombang berikutnya sesuai jumlah lulusan dan kebutuhan akademik.
Dengan pengaturan tersebut, jumlah wisudawan dalam satu gelombang dapat mencapai sekitar 2.000 hingga 3.000 orang atau lebih, sepanjang didukung kesiapan fasilitas dan tata kelola pelaksanaan.
Dari UNM untuk Dunia
Lebih jauh, gagasan Sukardi Weda tidak berhenti pada pembenahan layanan internal. Internasionalisasi UNM menjadi salah satu agenda strategis yang ingin didorong.
UNM diharapkan tidak hanya kuat sebagai perguruan tinggi yang berakar pada kebutuhan masyarakat lokal dan nasional, tetapi juga mampu memperluas jejaring akademik ke tingkat internasional.
Konsep local to go global menjadi pijakan bahwa internasionalisasi tidak berarti meninggalkan identitas dan kekuatan lokal. Sebaliknya, potensi lokal, pengalaman akademik, jejaring alumni, serta keunggulan yang telah dimiliki UNM menjadi modal untuk membangun reputasi di tingkat global.
Dengan pendekatan tersebut, UNM diarahkan untuk tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang besar secara jumlah, tetapi juga kuat dalam kualitas, tata kelola, layanan, kemitraan, serta daya saing internasional.
Kontestasi Pilrek UNM 2026 pun diperkirakan akan menjadi ruang pertarungan gagasan mengenai arah masa depan universitas. Di tengah sejumlah nama yang mulai muncul, gagasan local to go global yang ditawarkan Sukardi Weda menjadi salah satu perspektif yang menarik untuk dicermati dalam menentukan arah UNM ke depan.

0 Comments