
Titin Agustina (Mahasiswa Program Doktor Administrasi Publik Universitas Negeri Makassar)
Di lereng pegunungan Kecamatan Sinjai Barat KabupatenSinjai, pohon aren bukan sekadar tanaman. Ia adalah bagian darikehidupan. Dari pohon inilah masyarakat mengambil nira, memasaknya berjam-jam, lalu mengubahnya menjadi gula aren. Pengetahuan itu diwariskan dari satu generasi ke generasiberikutnya. Data BPS mencatat, pada 2020 tanaman aren di Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai mencapai sekitar 8 hektare dengan produksi 2,04 ton. Angka ini mungkin terlihatkecil dibandingkan komoditas perkebunan lainnya. Namun di balik angka tersebut terdapat rumah tangga yang menggantungkan penghasilan, pengetahuan lokal yang terusdipertahankan, dan potensi ekonomi yang belum sepenuhnyaberkembang.
Hari ini, gula aren bukan lagi sekadar pemanis tradisional. Ia hadir dalam kopi susu, minuman kekinian, produk pangan, kuliner, hingga berbagai usaha kreatif. Pasarnya semakin terbukadan nilai ekonominya semakin tinggi. Data konsumsi pangannasional menunjukkan bahwa konsumsi gula merah—yang dalam statistik mencakup gula aren—mencapai sekitar 0,54 kg per kapita per tahun pada 2024.
Di Kota Makassar, kebutuhantersebut berkembang tidak hanya melalui konsumsi rumahtangga, tetapi juga melalui pertumbuhan usaha kuliner, kafe, dan minuman. Salah satu gambaran rantai pasok lokal menunjukkanterdapat 116 mitra usaha, terdiri atas 62 usaha ritel dan 54 usaha kuliner/kafe yang menggunakan atau menjual produk gula aren. Besarnya pasar perkotaan ini menunjukkan bahwaMakassar merupakan salah satu ruang penting bagi pemasarangula aren dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Bahkanketika pasokan dari daerah penghasil seperti Sinjai dan Bone berkurang, harga gula aren di pasar sekitar Makassar dapatmeningkat; pada Juni 2026, harga di pasar Maros dilaporkanmencapai sekitar Rp25.000 per kilogram, naik dari sekitarRp20.000 per kilogram akibat terbatasnya pasokan.
Tetapi di sinilah paradoksnya: ketika gula aren semakinmanis di pasar, mengapa kehidupan masyarakat di hulunyabelum tentu ikut menjadi lebih manis? Nilai ekonomi yang tumbuh di hilir belum otomatis berarti peningkatankesejahteraan bagi petani dan penyadap di hulu. Persoalannyabukan semata-mata pada besarnya permintaan, tetapi pada bagaimana nilai tersebut dibagi sepanjang rantai pasok.
Nilai yang Tidak Selalu Sampai ke Hulu
Menjadi penderes aren bukan pekerjaan sederhana. Ada pohon yang harus dipanjat, nira yang harus dikumpulkan dan dijaga kualitasnya, serta proses pengolahan yang membutuhkanwaktu, tenaga, dan keterampilan. Namun, ketika gula arenmeninggalkan sentra produksi dan memasuki pasar, nilainyadapat berubah secara signifikan. Produk yang semula hanyabernilai sebagai hasil olahan rumah tangga dapat memiliki hargalebih tinggi setelah melalui proses pengolahan, standardisasi, pengemasan, branding, distribusi, dan pemasaran. Dalamperspektif value chain atau rantai nilai, nilai ekonomi tidakberhenti ketika produk dihasilkan. Nilai terus terbentuksepanjang perjalanan dari hulu hingga hilir. Persoalannyakemudian adalah: siapa yang paling banyak menikmati nilaitambah tersebut?
Jika masyarakat di hulu hanya berperan sebagai penghasilbahan baku, sementara pengolahan lanjutan, branding, distribusi, dan pemasaran dikuasai pihak lain, sebagian nilai tambahberpotensi dinikmati di luar sentra produksi. Persoalan ini tidaktepat jika semata-mata dibebankan kepada petani. Mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lahir daripengalaman panjang. Yang sering kali belum kuat adalahekosistem pendukungnya, seperti akses terhadap teknologi, modal, informasi harga, kelembagaan, sertifikasi, dan pasar.
Governance: Mengubah Bantuan Menjadi Ekosistem
Di sinilah konsep governance menjadi penting. Dalam tata kelola modern, pemerintah tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya aktor pembangunan. Pemerintah perlu bekerja bersamamasyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan aktor lainnya. Pendekatan collaborative governancemenempatkanpenyelesaian persoalan publik sebagai proses bersama, denganpemerintah berperan sebagai regulator sekaligus fasilitator dan penghubung.
Dalam konteks gula aren Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai, kebutuhan tersebut sangat nyata. Petanimembutuhkan teknologi dan modal. Pelaku usaha membutuhkanpasokan berkualitas dan berkelanjutan. Pasar membutuhkanproduk yang memenuhi standar. Perguruan tinggi memilikipengetahuan dan inovasi, sementara pemerintah memilikikewenangan dan sumber daya kebijakan. Karena itu, pemerintahtidak cukup hanya membagikan alat atau mengadakan pelatihan. Yang lebih penting adalah membangun kelembagaan petani, meningkatkan kualitas produksi, memfasilitasi sertifikasi, membuka akses pembiayaan, menyediakan informasi pasar, dan memperluas jaringan pemasaran. Perguruan tinggi dapatberkontribusi melalui inovasi dan pendampingan, sementaradunia usaha membuka akses pasar dan membangun kemitraanyang adil.
Dengan demikian, kebijakan tidak berhenti pada “memberibantuan”, tetapi bergerak menuju “membangunkemampuan”.
Hilirisasi Jangan Berhenti pada Kemasan
Hilirisasi juga tidak seharusnya dimaknai sekadarmengubah gula aren menjadi produk dengan kemasan lebihmenarik. Hilirisasi harus mampu menciptakan nilai tambahsekaligus memperkuat posisi masyarakat di hulu. Di sinilahkewirausahaan menjadi penting. Masyarakat perlu memilikikemampuan membaca pasar, mengembangkan merek, menjagakualitas, membangun jejaring, dan mengelola usaha secaraberkelanjutan. Gula aren Kecamatan Sinjai Barat KabupatenSinjai memiliki modal yang kuat: alam pegunungan, sumberdaya aren, pengetahuan lokal, keterampilan masyarakat, dan pasar yang semakin terbuka. Semua itu dapat dikembangkanbukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai identitas ekonomidaerah.
Konsumen hari ini tidak selalu membeli produk hanyakarena harga. Mereka juga mencari kualitas, keaslian, keberlanjutan, dan cerita di balik produk. Gula aren KecamatanSinjai Barat Kabupaten Sinjai memiliki cerita tersebut: tentangmasyarakat yang memanjat pohon, mengambil nira, memasaknya dengan sabar, dan mempertahankan pengetahuanyang diwariskan lintas generasi. Namun, cerita itu akankehilangan maknanya jika masyarakat yang menjadi sumbercerita justru tetap berada pada posisi paling lemah dalam rantainilai.
Persoalan lainnya adalah keberlanjutan. Jika pekerjaansebagai penderes dan pengolah nira tidak lagi memberikanpenghidupan yang layak, generasi muda dapat kehilangan minatuntuk meneruskannya. Yang hilang kemudian bukan hanyaproduksi gula aren, tetapi juga pengetahuan lokal yang telahdiwariskan selama puluhan tahun. Karena itu, membangunekonomi gula aren bukan sekadar meningkatkan harga jual. Ia juga menyangkut bagaimana menjaga hubungan masyarakatdengan alam, mempertahankan pengetahuan lokal, dan memastikan profesi tersebut tetap memiliki masa depan.
Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan tidak cukuphanya meningkatkan produksi. Pertambahan nilai harus berjalanbersama pertambahan kesejahteraan masyarakat yang berada di dalam rantai tersebut.
Agar Manisnya Sampai ke Hulu, Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai memiliki modal yang tidak sedikit: alam, pengetahuan, keterampilan, dan pasar yang semakin terbuka. Tantangannya adalah menghubungkan seluruh modal tersebutdalam tata kelola yang lebih kuat.
Masyarakat tidak cukup hanya menjadi produsen. Mereka harusmemiliki akses terhadap teknologi, pembiayaan, informasi, dan pasar. Pemerintah tidak cukup menjadi pemberi bantuan, tetapiperlu menjadi penghubung dan pembangun ekosistem. Dunia usaha pun tidak cukup mencari produk dengan harga murah; kemitraan harus memberi ruang bagi produsen di hulu untuktumbuh.
Pada akhirnya, keberhasilan gula aren Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai tidak seharusnya hanya diukur dari jumlahproduksi atau tingginya harga jual. Ukuran yang lebih pentingadalah: apakah meningkatnya nilai gula aren juga meningkatkankehidupan masyarakat yang menghasilkannya?
Jangan sampai gula arennya naik kelas, tetapi petaninya tetapberada di tempat yang sama. Sebab pembangunan ekonomi yang sesungguhnya bukansekadar membuat sebuah produk menjadi lebih mahal. Pembangunan adalah ketika nilai sebuah produk mampumengangkat kehidupan orang-orang yang menghasilkan produktersebut. Maka, ketika suatu hari kita menikmati manisnya gula aren Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai, semestinyamanis itu tidak berhenti di meja konsumen.
Ia harus sampai ke hulu—kepada masyarakat yang menanam, memanjat, menderes, mengolah, dan menjaga agar manisnyagula aren tetap ada.
0 Comments