
UJARAN.OPINI – Yaqut Cholil resmi diangkat sebagai Menteri Agama (Menag) pada Selasa, 22 Desember 2020. Dalam sambutannya yang menarik ia menegaskan bahwa setelah resmi menjadi Menag yang pertama ingin dilakukan adalah bagaimana menjadikan agama itu sebagai inspirasi, bukan aspirasi. Artinya, agama sebisa mungkin tidak lagi digunakan menjadi alat politik baik untuk menentang pemerintah maupun merebut kekuasaan, atau mungkin untuk tujuan lain. “Agama biar menjadi inspirasi dan biarkan agama itu membawa nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” demikian kutipan pernyataannya.
Dari pernyataan tersebut jelas Islam satu-satunya telah memberikan inspirasi dahsyat tentang bagaimana manusia menjalani kehidupannya. Tidak hanya untuk hidup hari ini di dunia, pun kelak di akhirat sana. Maka, tidak hanya inspiratif, Islam juga visioner. Pun tidak hanya sebagai inspirasi. Sejatinya Islam adalah petunjuk (aturan) dari Allah Swt yang diturunkan melalui sosok Rasulullah Saw yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Islam mencakup hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri dan manusia lainnya. Islam sebagai inspirasi terbaik juga karena bersumber wahyu hingga mampu merespon dinamika persoalan sepanjang waktu. Inilah keunikan Islam dibanding ajaran lain. Islam bersifat syamil wa kamil. Aturannya menyeluruh dan sempurna. Dari bangun tidur, bangun keluarga, hingga bangun negara. Semua ada. Saat seorang hamba berhubungan dengan Allah, Islam sediakan aturan tentang akidah dan ibadah. Ketika mengatur dirinya sendiri, ada aturan tentang makanan, pakaian dan akhlakul karimah. Kala berinteraksi dengan sesamanya, Islam memberikan aturan kemasyarakatan dan sanksi, serta ekonomi.
Jika menelisik lebih dalam terkait makna ‘aspirasi’. Maka bermakna harapan dan tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Artinya Islam tentu ajaran yang berisi aspirasi. Mengandung harapan dan mengajarkan tujuan bagi pemeluknya untuk keberhasilan hidup dunia akhirat. Begitupun ketika penerapan Islam pada masa Rasulullah Saw dan sahabat, serta khalifah-khalifah setelahnya, kekuasaan Islam membuka ruang bagi warga negara menyampaikan aspirasinya. Berupa harapan, keinginan, masukan, bahkan yang bernada kritikan dari rakyat terhadap pemimpinnya. Aspirasi dalam bentuk mengkritik Ini bukanlah dianggap hal yang berbahaya dalam kekuasaan Islam. Sesuatu yang sulit ditemui dalam model kekuasaan represif saat ini, ketika kritik dimaknai sebagai anti loyal dan permusuhan.
Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab yang menerima terhadap kritik seorang wanita lantas meralat kebijakannya yang membatasi jumlah mahar, sebagai contoh bahwa Islam adalah ajaran aspiratif. penerapan Islam pada masa Rasulullah Saw dan Sahabat, serta khalifah-khalifah setelahnya, kekuasaan Islam membuka ruang bagi warganegara menyampaikan aspirasinya. Berupa harapan, keinginan, masukan, bahkan yang bernada kritikan dari rakyat terhadap pemimpinnya.
Begitulah hubungan pemimpin dan rakyat dalam sistem Islam. Pemimpin yang begitu ikhlas menerima kritikan dari rakyatnya. Khalifah Umar tidak segan mengakui kebenaran ucapan seorang wanita di depan umum. Dan sebagai rakyat, wanita tersebut telah melakukan kewajiban meluruskan kekeliruan pemimpinnya.
Agama memang tidak layak digunakan sebagai alat politik praktis. Hanya demi berlindung di balik agama sekadar mendapatkan kekuasaan atau jabatan. Namun, memisahkan agama dari politik (kekuasaan) adalah perilaku yang keliru apalagi jika dilakukan oleh seorang muslim. Justru memisahkan keduanya adalah praktik sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan, dari kekuasaan). Yang tentu pemisahannya akan membentuk kerusakan seperti halnya fakta saat ini.
Dalam Islam, kekuasaan ditegakkan demi menerapkan ajaran Islam. Kalimatnya Allah Swt. Bukan kekuasaan demi berkuasa itu sendiri. Agama tidak digunakan sebagai alat politik untuk menentang pemerintah, merebut kekuasaan dan tujuan lain. Ketika kekuasaan dijalankan tidak berdasar aturan Allah, tidak menerapkan hukum-Nya, bahkan menyingkirkan agama-Nya dari berbagai kebijakan, lantas ada kelompok rakyat yang mengingatkan dengan ayat-ayat Allah, tidak bisa disebut mempolitisasi agama. Begitupun kelompok umat Islam yang menghendaki penerapan hukum Allah secara kaffah dan mendakwahkannya sebagai solusi carut-marutnya kepemimpinan sekuler saat ini, lantas tidak bisa dicap menggunakan agama sebagai alat politik. Bahkan dianggap menggunakan agama untuk menentang pemerintah.
Sudah seharusnya Jika penguasa telah nampak kezalimannya, maka sebagai umat wajib menasihati atau memberikan kritik. Jika orang yang paham agama tidak boleh menyampaikan aspirasinya, tidak boleh mewarnai politik dengan agama. Bukankah sebagai muslim, teladan utama dalam hal apapun adalah Rasulullah Saw. Beliau juga mempraktikkan politik berbasis agama Islam saat membangun masyarakat di Madinah. Tentu sebagai seorang muslim tidak akan berani kita mengatakan beliau telah menjadikan agama sebagai alat politik.
Padahal Islam adalah solusi yang memberikan keberkahan bagi kehidupan. Satu-satunya agama membawa nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka jadikan agama (Islam) sebagai inspirasi, aspirasi dan asas politik menjadikannya solusi satu-satunya adalah kewajiban. Dengan menjadikan Islam sebagai inspirasi kemudian diaspirasikan dengan penerapan secara menyeluruh akan membuat negeri ini diberkahi dan menjelma menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Dan ini bisa terwujud dalam tataran bernegara dalam bingkai naungan khilafah rasyidah. Wallaahu a’lam bishowwab.
Penulis : Riska Nilmalasari (Aktivis Muslimah)
0 Comments