![]() |
| Annisa Dzikra Amilia, ditunjuk langsung sebagai desainer sampul dokumentasi budaya tersebut. |
UJARAN.CO.ID, SELAYAR – Sebuah langkah kreatif dilakukan oleh pegiat budaya Andi Agus dalam mendokumentasikan karya budaya seni musik tradisional Kepulauan Selayar. Kegiatan yang berlangsung dari Agustus hingga Oktober 2025 ini melibatkan siswa Sekolah Alam Le Cendekia, menjadikan generasi muda sebagai bagian penting dalam pelestarian warisan budaya.
Yang menarik perhatian publik, salah satu siswa SMP, Annisa Dzikra Amilia, ditunjuk langsung sebagai desainer sampul dokumentasi budaya tersebut. Ia merupakan siswa berbakat dari Sekolah Alam Le Cendekia yang dipercaya untuk menerjemahkan esensi budaya ke dalam visual yang representatif.
Dokumentasi ini akan merekam berbagai bentuk seni musik tradisional Selayar, seperti Rate’, Appasa’ra Ganrang, Batti-Batti, dan Didek. Seluruh kekayaan musik tradisional ini akan dikemas dalam format dokumentasi cetak dan digital sebagai bagian dari upaya pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Menurut Andi Agus, keterlibatan siswa bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata dari pemberdayaan generasi muda dalam pelestarian budaya lokal. “Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tapi ikut berkarya dan merasa memiliki budaya leluhur mereka,” ungkapnya.
Andi Agus juga menegaskan bahwa proses desain visual akan didampingi langsung, mulai dari tahap observasi hingga finalisasi desain. Annisa akan menggali inspirasi dari pertunjukan musik tradisional dan berbagai alat musik yang didokumentasikan selama kegiatan berlangsung.
Dengan menggandeng pelajar, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran budayasejak dini, sekaligus menciptakan ruang kolaborasi antara generasi tua dan muda dalam menjaga identitas kultural masyarakat Selayar.
Proyek ini mendapat dukungan penuh dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, yang menilai pendekatan partisipatif ini sebagai langkah strategis dalam penguatan nilai budaya di tengah era digital.
Pihak sekolah juga menyambut baik keterlibatan siswanya dalam kegiatan nasional ini. Mereka melihat pengalaman ini sebagai bentuk nyata dari pendidikan kontekstual berbasis budaya, yang menjadi ciri khas Sekolah Alam.
Melalui proyek ini, musik tradisional Kepulauan Selayar tidak hanya akan terdokumentasi secara fisik, tetapi juga mengakar kuat dalam jiwa anak-anak muda. Harapannya, gerakan ini akan menginspirasi wilayah lain untuk melakukan pendekatan serupa dalam melestarikan budaya lokal Indonesia.

0 Comments